Riza Chalid, Mafia di Balik Petral

Advertisements
Advertisements

Jakarta,Zonadinamika.com.Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Sudirman Said secara tidak langsung menyebut pengusaha minyak dan gas (migas) M Riza Chalid adalah sosok yang kontroversial.

Bahkan, disebut Sudirman mengkaitkan yang bersangkutan dengan istilah mafia migas. Sebagaimana, muncul dalam pemberitaan beberapa media belakangan ini.

“Iya, sekarang kan sudah muncul di media kan bagaimana kiprahnya dia (Riza), bagaimana urusan-urusan istilah mafia migas dikaitkan sama dirinya kan,” kata Sudirman di kantor Wapres, Jakarta, Rabu (16/12).

Secara tidak langsung, Sudirman juga mengkaitkan Riza dengan hasil audit Petral yang menunjukkan adanya keterlibatan pihak ketiga dalam proses pengadaan dan jual beli minyak mentah maupun produk Bahan Bakar Minyak (BBM) di Petral.

“Kalau lihat hasil audit petral memang begitulah dia (Riza),” jawab Sudirman ketika ditegaskan kembali soal Riza adalah mafia.

Nama Riza Chalid mencuat pasca dugaan pelanggaran etik yang diduga dilakukan Ketua DPR RI, Setya Novanto (Setnov) disidangkan oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Suara Riza terekam dalam pembicaraan antara Setnov dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Ma’roef Sjamsuddin.

Riza disebut sebagai otak dari pencatutan nama presiden dan wapres tersebut. Dalam rekaman yang diambil Ma’roef jelas terdengar bahwa dia yang berinisiatif mengusulkan pembagian saham antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebesar 11 persen dan Wapres JK sebesar 9 persen.

Tetapi, sayangnya, Riza dikabarkan telah berada di Singapura. Menurut informasi, dia meninggalkan Tanah Air, tepat pada malam Sudirman Said dimintai keterangan di MKD DPR RI.

Sementara itu, terkait Petral, berdasarkan audit forensik untuk tahun 2012-2014, ditemukan adanya keterlibatan pihak ketiga dalam proses pengadaan dan jual beli minyak mentah maupun produk BBM di perusahaan yang kini telah resmi ditutup tersebut.

Ketika itu, Sudirman mengatakan pihak ketiga itu turut campur mulai dari mengatur proses tender, membocorkan informasi mengenai harga penawaran, hingga menggunakan instrumen karyawan Petral untuk memenangkan hasil tender tersebut. Akibatnya, Pertamina dan Petral, serta masyarakat luas, dirugikan karena tidak memperoleh harga yang optimal atau harga yang terbaik ketika impor minyak mentah dan produk BBM.

Tetapi, tidak disebutkan berapa besar kerugian yang harus ditanggung karena adanya pihak ketiga tersebut.

This Article Was Written By

Karawang sinawang

Leave a Comment